Rabu, 07 Januari 2015
Microsoft kini Resmi Mulai Sediakan Akses Gratis Office untuk Pengguna Tablet Android
Microsoft sebelumnya telah mengumumkan bakal menyediakan aplikasi Office untuk pengguna Android dan iOS secara cuma-cuma. Dan kini, realisasi dari pernyataan tersebut pun telah secara resmi dilakukan oleh pihak Microsoft. Perusahaan yang dipimpin oleh Satya Nadella telah kini telah secara resmi memulai memperluas program preview Office for Android.
Program ini pun diberlakukan untuk semua pengguna tablet Android yang berkeinginan untuk mencoba aplikasi Office di perangkat miliknya. Yang perlu diperhatikan, tablet Android yang dipakai haruslah yang mempunyai ukuran antara 7 inci hingga 10.1 inci. Selain itu, tablet tersebut juga harus paling tidak memakai OS Android KitKat 4.4.
Pengguna notebook Android dikabarkan mempunyai permasalahan kalau ingin mengikuti program yang satu ini. Dan untuk bisa turut serta dalam program ini, pengguna perangkat Android tinggal menuju ke Google Play Store dan mengunduh aplikasi Office seperti halnya seperti ketika mengunduh aplikasi lainnya.
sumber : http://www.beritateknologi.com/microsoft-kini-resmi-mulai-sediakan-akses-gratis-office-untuk-pengguna-tablet-android/
Intel Resmi Luncurkan Komputer Desktop Mini NUC Berbasis Broadwell
Sebuah komputer mungil belum tentu mempunyai performa yang juga mungil. Komputer Intel NUC terbaru dengan prosesor Intel Broadwell adalah salah satunya. Di awal tahun 2015 ini, Intel pun melakukan update untuk produk NUC miliknya dengan menghadirkan model dengan prosesor Intel Broadwell.Dua model pertama adalah NUC51i3RYH dan NUC5i3RYK. Kedua model komputer ini sama-sama mempunyai spesifikasi prosesor Intel COre i3-5010U dengan grafis Intel HD 5500. Selain itu, keduanya juga mempunyai Mini DisplayPort, Gigabit Ethernet, WiFI 802.11ac, Bluetooth 4.0, empat port USB 3.0 serta mendukung RAM 16GB.
Perbedaan kedua model ini hanya terletak pada ruang untuk kapasitas penyimpanannya. Seri RYH bisa menggunakan HDD 2,5 inci. Sementara model RYK lebih compact dan hanya bisa menunjang SSD M.2.
Kalaupun ingin mencari komputer Intel NUC dengan performa yang lebih tinggi, terdapat pula model lainnya, yakni NUC5i5RYH dan NUC5i5RYK. Spesifikasi kedua model ini tak jauh berbeda dengan dua model sebelumnya. Namun komputer ini hadir dengan prosesor Intel Core i5-5250U dan grafis Intel HD 6000.
sumber : http://www.beritateknologi.com/intel-resmi-luncurkan-komputer-desktop-mini-nuc-berbasis-broadwell/
Bangunan di Atas Tanah Berkontur
Sebagian orang yang memiliki tanah berkontur cenderung lebih suka meratakan tanah mereka karena menganggap lebih mudah membangun di atas tanah yang rata, namun jangan salah, membangunrumah di atas tanah berkontur justru merupakan tantangan tersendiri dan hampir semua bangunanyang dibangun di atas tanah berkontur memiliki desain ekterior yang menarik apabila kita tepat merancangnya. Apabila anda ingin membangun di atas tanah berkontur, sebaiknya memperhatikan kondisi lahan sekitar termasuk kepadatan tanah yang akan akan dibangun, bangunan yang mengikuti bentuk kontur akan terlihat lebih artistic karena permainan level lantai yang tidak rata, penggunaansplit level pada bangunan akan menambah view yang lebih luas. Gunakan pondasi yang kuat menahan bangunan anda, perhitungkan konstruksi dan pemilihan material yang tepat.
 Berikut ini tips dari tim Archira untuk anda yang ingin membangun di atas tanah berkontur :
- Sesuaikan bangunan dengan kontur tanah, sebaiknya bangunan yang akan dibangun mengikuti lekukan tanah yang ada.
- Cek kepadatan tanah untuk membangun pondasi bangunan
- Penggunaan Split level akan membuat bangunan anda lebih menarik
- Jika kontur tajam, ada baiknya memanfaatkan ruang pada kontur menjadi bagian dari bangunan
- Sesuaikan posisi split level untuk mendapatkan view yang terbaik
- Pilihlah material yang kuat secara konstruksi untuk menopang bangunan
- Analisis kondisi iklim sekitar sebelum menentukan desain bangunan, agar tidak menimbulkan masalah besar nantinya
- Perhatikan jalur buangan air dan sumber air pada site, untuk menjadi pertimbangan dalam membuat sistem drainase
- Jika menginginkan split level yang landai, sebaiknya menggunakan sistem cut and fill pada kontur, sehingga bisa disesuaikan dengan desain bangunan
- Pertimbangkan pula posisi dan bentuk sirkulasi agar tidak menyulitkan pengguna bangunan
Incoming search terms:
- bangunan berkontur
- rumah berkontur
- pondasi rumah berkontur
- drainase rumah split level
- pondasi tanah berkontur
- bentuk rumah daerah tanah tak rata
- Sistem pondasi pada lahan berkontur
- bangunan yang memanfaatkan tanah berkontur
- membangun rumah di tanah berkontur
- desain rumah berkontur
Posts Related to Bangunan di Atas Tanah Berkontur
Desain rumah peduli lingkungan
1. Memaksimalkan building coverage masing masing kota di Indonesia mempunyai aturan yang jelas mengenai seberapa banyak lahan yang dimiliki yang dapat "ditutup" oleh bangunan. Rata-rata ...Januari, 2014 | 1000 MASJID ARCHIRA
Sebagai wujud kepedulian Kami terhadap kebutuhan Masjid yang layak dan pengoptimalan fungsi Masjid itu sendiri, Archira menyelenggarakan program CSR (Corporate Social Responsibility) yakni "Archira Mendesain ...Tips rumah beken dari rumah orang beken (1)
1. Rumah Nindityo Adipurnomo dan Mella Jaarsma (perupa) - Menggunakan ruangan yang 'terbuka' rumah didesain dengan plafon tinggi dan sedemikian rupa sehingga banyak ruang terbuka. ...Green Building
Sebuah publikasi yang dilakukan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change(IPCC) menyebutkan bahwa selama tahun 1990-2005 telah terjadi peningkatan suhu global di seluruh bagian bumi, antara ...ATAP
Atap merupakan salah satu bagian terpenting dari rumah karena dapat melindungi kita dari teriknya sinar matahari serta hujan, ada berbagai bahan atap yang beredar di ...
sumber: http://arsitekarchira.com/?p=1116
Kerusakan Lingkungan di Tengah Ancaman Perubahan Iklim
LAPORAN Keempat dari
Intergovernmental Panel on Climate Change atau IPCC akhir tahun 2007
menyebutkan perubahan suhu akhir-akhir ini telah berdampak kepada banyak sistem
fisik dan biologis alam. Tingkat kemungkinan ancaman perubahan iklim disebutkan high confidence, memiliki angka
prosentase kebenaran sekitar 80%.
Laporan
kelompok kerja yang bertanggung jawab atas pengetahuan dan teknologi (Scientific
& Technology) bahkan memperkirakan akhir abad 21, suhu bumi
akan naik sebesar 1,8–4oC, sedangkan
permukaan air laut akan naik setinggi 28 – 43 cm, jika tidak ada upaya serius
menurunkan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK).
Kualitas
lingkungan buruk akibat dipinggirkankannya persoalan dan dampak lingkungan
dalam pembangunan menjadi faktor utama bencana lingkungan yang berpengaruh pada
kualitas sosial dan ekonomi. Ini menempatkan tingkat kerentanan wilayah
terhadap bencana lingkungan semakin besar. Kondisi ini artinya perubahan iklim
akan mendorong dan mempercepat bencana serta kerusakan lingkungan.
Tengok saja
apa yang terjadi di kota-kota besar, contoh Jakarta. Saat kawasan hijau dan
daerah resapan serta tangkapan air (ditambah lemahnya koordinasi antarwilayah
dalam menjaga dan memelihara watershed management dari hulu ke hilir) mengalami
penurunan akibat ketidakkonsistenan pemerintah daerah (pemda) terhadap rencana
tata ruangnya sendiri. Hujan dengan intensitas yang tinggi dengan mudah
“menenggelamkan” beberapa wilayah utama Jakarta.
Di sisi lain,
laporan studi Departemen Pekerjaan Umum (2007) menyebutkan bahwa dampak ancaman
perubahan iklim yaitu naiknya permukaan air laut akan menjadi ancaman terhadap
beberapa industri seperti; anjungan minyak dan gas di laut, transportasi,
perikanan, pertanian dan ekowisata serta perkampungan masyarakat pesisir.
Laporan ini semakin memperkuat sinyalemen dari laporan keempat IPCC.
Dalam konteks
otonomi dan desentralisasi, kerusakan lingkungan, khususnya akibat perubahan
lahan –termasuk di dalamnya kebakaran hutan-, perambahan dan penebangan illegal
dan legal sudah sering disampaikan dan dilaporkan melalui advokasi sejumlah
organisasi yang memiliki perhatian dengan persoalan lingkungan. Dengan demikian
revitalisasi kebijakan lingkungan, termasuk di dalamnya ancaman perubahan iklim
sudah berada pada prioritas utama.
IPCC
menyebutkan bahwa kawasan Selatan Indonesia akan mengalami penurunan curah
hujan dan sebaliknya kawasan Utara akan mengalami peningkatan curah hujan.
Ancaman kekeringan akibat gejala El-Nino tentunya pula (kembali) menjadi faktor
pendorong kebakaran hutan yang selama ini telah menghilangkan jutaan hektar
lahan hutan. Ancaman terhadap naiknya permukaan air laut dan ancaman terhadap
tenggelamnya pulau-pulau.
Kegagalan
pengelolaan lingkungan, termasuk di dalamnya “marginalisasi” isu lingkungan
oleh tiap sektor, misalnya tampak pada persoalan watershed management. Data menunjukkan bahwa persoalan
air di kota–kota besar di Indonesia tidak saja akibat tingginya run off air
sebagai dampak minimnya wilayah /daerah resapan dan tangkapan air tapi juga
kualitas air akibat pencemaran industri, intrusi air laut, penurunan air tanah
dan kekeringan. Persoalan banjir saat ini, tidak saja didominasi di wilayah
perkotaan. Dalam lingkup perubahan iklim dan kegagalan manajemen lingkungan
tadi, peningkatan curah hujan menjadi potensial ancaman banjir yang merusakan
sarana dan prasarana serta lahan-lahan basah.
Adaptasi
Dengan
dilaluinya beberapa konvensi perubahan iklim sebagai komitmen negara-negara
dalam memerangi pemanasan global dan mulai dibicarakannya secara serius dalam
rentang waktu dua tahun terakhir persoalan adaptasi perubahan iklim menjadi
perhatian dan fokus utama negara-negara berkembang dan miskin.
Keterbatasan
sumber daya dana, teknologi, dan manusia memosisikan negara-negara tersebut
sangat rentan dengan perubahan iklim. Adaptasi perubahan iklim didefinisikan
sebagai kemampuan suatu sistem (termasuk ekosistem, sosial ekonomi, dan
kelembagaan) untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Oleh sebab itu,
negara-negara tersebut didorong untuk memiliki kemampuan adaptasinya (adaptive
capacity), yaitu kemampuan suatu sistem (termasuk ekosistem, sosial
ekonomi, dan kelembagaan) untuk menyesuaikan dengan dampak perubahan iklim,
mengurangi kerusakan, memanfaatkan kesempatan, dan mengatasi konsekuensinya.
Dengan
mendorong pengarusutamaan adaptasi perubahan iklim kedalam agenda pembangunan
nasional atau daerah, pertimbangan-pertimbangan risiko dan dampak perubahan
iklim diterjemahkan tidak saja dalam rencana strategis jangka menengah, namun
juga ke dalam kebijakan dan struktur kelembagaan.
Selama ini,
pembangunan lebih memfokuskan pada pertimbangan ekonomi semata. Padahal bukti
menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang tak berwawasan lingkungan akan
semakin “peka” dengan kehancuran ekonomi itu sendiri.
Sebut saja
Honduras, kejadian badai Mitch yang melanda negara tersebut meruntuhkan
pertumbuhan ekonomi mereka sebesar 4-5% pertahun. Data yang disampaikan World
Bank menyebutkan antara tahun 1984 sampai 2003, persentase kehilangan
pendapatan nasional tiga kali lebih besar terjadi di negara yang berpendapatan
rendah dan menengah (80% penduduk dunia) akibat perubahan iklim.
Persoalan
dalam perubahan iklim adalah kerugian yang ditimbulkan akan lebih besar
daripada biaya penangulangannya setelah bencana terjadi. Oleh sebab itu, sepatutnya
Pemerintah Indonesia sudah harus menempatkan persoalan kegagalan pengelolaan
lingkungan saat ini sebagai prioritas.
Prioritas
kedua, Alokasi budget Anggaran Pembiayaan dan Belanja Negara atau Daerah
sepatutnya sudah mengintegrasikan upaya-upaya adaptasi di seluruh sektor yang
terkait dengan kerentanan perubahan iklim. Dengan kata lain, daripada menunggu
‘uang recehan’ dari negara-negara yang diwajibkan memberikan komitmen pendanaan
adaptasi yang belum tahu kapan realisasinya. Semoga tidak terlambat......
sumber :http://dnpi.go.id/portal/en/berita/berita-terbaru/302-kerusakan-lingkungan-di-tengah-ancaman-perubahan-iklim
FKKM Dorong Perbaikan Tata Kelola Kehutanan Masyarakat
JAKARTA, BL- Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM)
kembali mendorong tata kelola kehutanan masyarakat, demi perbaikan kehidupan
masyarakat sekitar hutan.
Menurut Andri Santosa, Seknas FKKM,
Kehutanan Masyarakat telah menjadi sasaran pembangunan, namun capaiannya belum
ideal secara kualitatif maupun kuantitatif.
Dalam Rencana Pembangungan Jangka
Menengah (RPJM) tahun 2010 – 2014, ditargetkan 7,9 juta hektar hutan dikelola
dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kesejahteraannya. Upaya tersebut
ditempuh melalui skema Hutan Desa (HD), Hutan Kemasyarakatan (HKm) serta Hutan
Tanaman Rakyat (HTR). Namun target RPJM tersebut baru tercapai sekira 17,5
persen saja.
“Persoalannya pelik, dari berbelitnya
proses perizinan hingga kemampuan lembaga masyarakat untuk mengelola
hutan,”kata Andri melalui keterangan tertulisnya yang diterima
Beritalingkungan.com.
Secara kuantitatif, capaian skema HD dan
HKm baru 38%, dari target seluas 2.5
juta hektar.
Hingga Agustus 2014 areal HD dan HKm yang telah ditetapkan hanya
sekira 0.95 juta hektar, Kata Wiratno, direktur Bina Perhutanan Sosial,
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). “Setelah ditetapkan,
masyarakat masih dibebani izin usaha pemanfaatan untuk menikmati hasil
hutannya. Luasan HD dan HKm yang telah memiliki izin usaha pengelolaan dan
pemanfaatan sekira 0,22 juta hektar saja, hanya 8.84% dari target,”tambahnya.
Telaah FKKM atas data KLHK, pada skema
HTR, areal yang telah dicadangkan baru dimanfaatkan 26.77% nya saja. Hingga
september 2014, kementerian kehutanan telah mencadangkan 0,72 juta hektar areal
hutan produksi untuk HTR, dari target RPJM seluas 5,4 juta hektar. Dari areal
yang telah dicadangkan, baru seluas 0.19 juta hektar saja yang telah memiliki
izin pengelolaan.
“Padahal, apapun bentuk skema kelola
hutan yang dipakai seperti HKm, HD, HTR tak jadi soal bagi masyarakat. Begitu
pula status kawasan hutannya, milik negara atau hutan adat. Namun jelas, jika
berada di kawasan hutan adat maka bukan lagi HD/HKm/HTR, harus dirubah menjadi
hutan adat,
“ujar Andri.
Seraya menambahkan, masyarakat juga belum
memahami skema-skema tersebut dan seringkali terindikasi tidak tepat sasaran.
Seperti temuan tim TLKM di lapangan, adanya kawasan berizin HTR yang mangkrak
di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Ditengarai masyarakat pemegang izin
berasal dari luar daerah yang jauh dari kawasan hutan. Konon, kelompok tani
yang diduga fiktif tersebut diketuai oleh tokoh legislatif provinsi.
Pada skema HTR juga ditemukan kasus
penyelewengan. Di Kolaka Sulawesi Utara, puluhan hektar kawasan HKm terindikasi
dijual. Sehingga pemegang izinnya tidak dapat mengelola hutan yang lebih dulu
dikuasai pihak lain. Di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan masyarakat telah
lebih dulu menanami jati kawasan hutan sebelum izinnya keluar.
Tak melulu buruk, kehutanan masyarakat
juga bisa berprestasi. Seperti HKm Pipikoro, di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah
yang memiliki beragam potensi komoditas dari kawasan seluas 2.600 hektar. Per
tahun, HKm pipikoro bisa menghasilkan Rotan sebanyak 150 ton, gaharu 0.5 ton
serta kopi 25 ton.
“Potensi produk hutan yang dikelola
masyarakat juga besar, ujar Wisnu Caroko, peneliti komoditas hutan non-kayu.
Dari kajian rantai nilai yang dilakukan FKKM di pulau Jawa, Sulawesi dan Nusa
Tenggara, komoditas kopi dan mete masih menjadi produk primadona kehutanan
masyarakat, lanjutnya.
Target luasan kehutanan masyarakat
meningkat pada RPJM 2015 - 2019. Seluas
40 juta Ha atau 30 persen dari kawasan hutan ditargetkan untuk dikelola
masyarakat. Sekira 10 persen dari luasan 40 juta hektar tersebut, diharapkan
dicapai pada tahun 2015.
Menurut Andri, untuk mencapai 30 persen
perlu upaya serius dan kepemimpinan yang kuat dari pemerintahan Jokowi – JK.
Idealnya kehutanan masyarakat ditangani direktorat khusus dengan dukungan dana
serta SDM yang memadai.
FKKM melihat masyarakat mengalami
kebingungan dalam prosedur pengurusan izin, serta skema kelolanya. Sehingga
perlu disederhanakan. Menurut Andri, kehutanan masyarakat tak cuma HKm, HD dan
HTR; skema kemitraan kehutanan serta desa konservasi juga perlu didorong. “Soal
tatakelola di lapangan juga perlu dicermati, karena berhubungan langsung dengan
nasib masyarakat di sekitar hutan,”tandasnya.
GEOGRAFI LINGKUNGAN
Teori struktur, tata ruang, dan perkembangan kota
a. Struktur Ekonomi Kota
Wilayah
kota menjadi tempat kegiatan ekonomi penduduknya di bidang jasa, perdagangan,
industri, dan administrasi. Selain itu, wilayah kota menjadi tempat tinggal dan
pusat pemerintahan. Kegiatan ekonomi kota dapat dibedakan menjadi dua sebagai
berikut.
1)
Kegiatan Ekonomi Dasar
Kegiatan
ini meliputi pembuatan dan penyaluran barang dan jasa untuk keperluan luar kota
atau dikirim ke daerah sekitar kota. Produk yang dikirim dan disalurkan berasal
dari industri, perdagangan, hiburan, dan lainnya.
2)
Kegiatan Ekonomi Bukan Dasar
Kegiatan
ini meliputi pembuatan dan penyaluran barang dan jasa untuk keperluan sendiri.
Kegiatan ini disebut juga dengan kegiatan residensial dan kegiatan pelayanan.
Kegiatan ekonomi kota dapat berupa industri dan kegiatan jasa atau fasilitas
yang tidak memerlukan lahan yang luas. Kegiatan ini menyebabkan kota
berpenduduk padat, jarak bangunan rapat, dan bentuk kota kompak
.
Struktur
kota dipengaruhi oleh jenis mata pencaharian penduduknya. Mata pencaharian
penduduk kota bergerak di bidang nonagraris, seperti perdagangan, perkantoran,
industri, dan bidang jasa lain. Dengan demikian, struktur kota akan mengikuti
fungsi kota. Sebagai contoh, suatu wilayah direncanakan sebagai kota industri,
maka struktur penduduk kota akan mengarah atau cenderung ke jenis kegiatan
industri.
Pada
kenyataan, jarang sekali suatu kota mempunyai fungsi tunggal. Kebanyakan kota
juga merangkap fungsi lain, seperti kota perdagangan, kota pemerintahan, atau
kota kebudayaan. Contoh: Yogyakarta selain disebut kota budaya tetapi juga
disebut sebagai kota pendidikan dan kota wisata.
Di daerah
kota terdapat banyak kompleks, seperti apartemen, perumahan pegawai bank,
perumahan tentara, pertokoan, pusat perbelanjaan (shopping center), pecinan,
dan kompleks suku tertentu. Kompleks tersebut merupakan kelompok-kelompok
(clusters) yang timbul akibat pemisahan lokasi (segregasi).Segregasi dapat
terbentuk karena perbedaan pekerjaan, strata sosial, tingkat pendidikan, suku,
harga sewa tanah, dan lainnya. Segregasi tidak akan menimbulkan masalah apabila
ada pengertian dan toleransi antara pihak-pihak yang bersangkutan. Munculnya
segregasi di kota dapat direncanakan ataupun tidak direncanakan. Kompleks
perumahan dan kompleks pertokoan adalah contoh segregasi yang direncanakan pemerintah
kota.
Bentuk
segregasi yang lain adalah perkampungan kumuh/slum yang sering tumbuh di
kota-kota besar seperti Jakarta. Rendahnya pendapatan menyebabkan tidak adanya
kemampuan mendirikan rumah tinggal sehingga terpaksa tinggal di sembarang
tempat. Kompleks seperti ini biasanya ditempati oleh kaum miskin perkotaan.
Permasalahan seperti ini memerlukan penanganan yang bijaksana dari pemerintah.
b. Struktur Intern Kota
Pertumbuhan
kota-kota di dunia termasuk di Indonesia cukup pesat. Pertumbuhan suatu kota
dapat disebabkan oleh pertambahan penduduk kota, urbanisasi, dan kemajuan
teknologi yang membantu kehidupan penduduk di kota. Wilayah kota atau urban
bersifat heterogen ditinjau dari aspek struktur bangunan dan demografis.
Susunan, bentuk, ketinggian, fungsi, dan usia bangunan berbeda-beda.
Mata pencaharian, status
sosial, suku bangsa, budaya, dan kepadatan penduduk juga bermacam-macam. Selain
aspek bangunan dan demografis, karakteristik kota dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti topografi, sejarah, ekonomi, budaya, dan kesempatan usaha.
Karakteristik kota selalu dinamis dalam rentang ruang dan waktu.
Apabila
dilihat sekilas wajah suatu kota, maka akan banyak susunan yang tidak
beraturan. Akan tetapi, apabila diamati dengan cermat maka akan dijumpai bentuk
dan susunan khas yang mirip dengan kota-kota lain.
Misalnya,
kota A berbentuk persegi empat, kota B berbentuk persegi panjang, dan kota C
berbentuk bulat. Begitu juga dalam susunan bangunan kota terjadi pengelompokan
berdasarkan tata guna lahan kota.
Jadi,
suatu kota memiliki bentuk dan susunan yang khas. Apabila kamu mengamati kota
berdasarkan peta penggunaan lahan, maka kamu akan mendapatkan berbagai jenis
zona, seperti zona perkantoran, perumahan, pusat pemerintahan, pertokoan,
industri, dan perdagangan. Zona-zona tersebut menempati daerah kota, baik di
bagian pusat, tengah, dan pinggirannya.
Zona
perkantoran, pusat pemerintahan, dan pertokoan menempati kota bagian pusat atau
tengah. Zona perumahan elite cenderung memiliki lokasi di pinggiran kota.
Sedang zona perumahan karyawan dan buruh umumnya berdekatan dengan jalan
penghubung ke pabrik atau perusahaan tempat mereka bekerja.
Para
geograf dan sosiolog telah melakukan penelitian berkaitan dengan persebaran
zona-zona suatu kota. Penelitian itu bertujuan untuk mengetahui perkembangan
dan persebaran spasial kota.
Beberapa
teori tentang struktur kota dapat kamu ikuti pemaparannya sebagai berikut.
1) Teori Konsentris (Concentric Theory)
Teori
konsentris dari Ernest W. Burgess, seorang sosiolog beraliran human ecology,
merupakan hasil penelitian Kota Chicago pada tahun 1923. Menurut pengamatan
Burgess, Kota Chicago ternyata telah berkembang sedemikian rupa dan menunjukkan
pola penggunaan lahan yang konsentris yang mencerminkan penggunaan lahan yang
berbeda-beda.
Burgess
berpendapat bahwa kota-kota mengalami perkembangan atau pemekaran dimulai dari
pusatnya, kemudian seiring pertambahan penduduk kota meluas ke daerah pinggiran
atau menjauhi pusat. Zona-zona baru yang timbul berbentuk konsentris dengan
struktur bergelang atau melingkar.
Berdasarkan
teori konsentris, wilayah kota dibagi menjadi lima zona sebagai berikut. :
Teori
Burgess sesuai dengan keadaan negara-negara Barat (Eropa) yang telah maju
penduduknya. Teori ini mensyaratkan kondisi topografi lokal yang memudahkan
rute transportasi dan komunikasi.
2) Teori Sektoral (Sector Theory)
Teori
sektoral dikemukakan oleh Hommer Hoyt. Teori ini muncul berdasarkan
penelitiannya pada tahun 1930-an. Hoyt berkesimpulan bahwa proses pertumbuhan
kota lebih berdasarkan sektorsektor daripada sistem gelang atau melingkar
sebagaimana yang dikemukakan dalam teori Burgess. Hoyt juga meneliti Kota
Chicago untuk mendalami Daerah Pusat Kegiatan (Central Business District) yang
terletak di pusat kota.
Ia
berpendapat bahwa pengelompokan penggunaan lahan kota menjulur seperti irisan
kue tar. Mengapa struktur kota menurut teori sektoral dapat terbentuk? Para
geograf menghubungkannya dengan kondisi geografis kota dan rute
transportasinya. Pada daerah datar memungkinkan pembuatan jalan, rel kereta
api, dan kanal yang murah, sehingga penggunaan lahan tertentu, misalnya
perindustrian meluas secara memanjang. Kota yang berlereng menyebabkan
pembangunan perumahan cenderung meluas sesuai bujuran lereng.
3) Teori Inti Ganda (Multiple Nucleus Theory)
Teori ini
dikemukakan oleh Harris dan Ullman pada tahun 1945. Kedua geograf ini
berpendapat, meskipun pola konsentris dan sektoral terdapat dalam wilayah kota,
kenyataannya lebih kompleks dari apa yang dikemukakan dalam teori Burgess dan
Hoyt.
Pertumbuhan
kota yang berawal dari suatu pusat menjadi bentuk yang kompleks. Bentuk yang
kompleks ini disebabkan oleh munculnya nukleus-nukleus baru yang berfungsi
sebagai kutub pertumbuhan. Nukleus-nukleus baru akan berkembang sesuai dengan
penggunaan lahannya yang fungsional dan membentuk struktur kota yang memiliki
sel-sel pertumbuhan.
Nukleus
kota dapat berupa kampus perguruan tinggi, Bandar udara, kompleks industri,
pelabuhan laut, dan terminal bus. Keuntungan ekonomi menjadi dasar pertimbangan
dalam penggunaan lahan secara mengelompok sehingga berbentuk nukleus. Misalnya,
kompleks industri mencari lokasi yang berdekatan dengan sarana transportasi.
Perumahan baru mencari lokasi yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan
tempat pendidikan.
Harris
dan Ullman berpendapat bahwa karakteristik persebaran penggunaan lahan ditentukan
oleh faktor-faktor yang unik seperti situs kota dan sejarahnya yang khas,
sehingga tidak ada urut-urutan yang teratur dari zona-zona kota seperti pada
teori konsentris dan sektoral. Teori dari Burgess dan Hoyt dianggap hanya
menunjukkan contoh-contoh dari kenampakan nyata suatu kota.
4) Teori Konsektoral (Tipe Eropa)
Teori
konsektoral tipe Eropa dikemukakan oleh Peter Mann pada tahun 1965 dengan
mengambil lokasi penelitian di Inggris. Teori ini mencoba menggabungkan teori
konsentris dan sektoral, namun penekanan konsentris lebih ditonjolkan.
5) Teori Konsektoral (Tipe Amerika Latin)
Teori
konsektoral tipe Amerika Latin dikemukakan oleh Ernest Griffin dan Larry Ford
pada tahun 1980 berdasarkan penelitian di Amerika Latin. Teori ini dapat
digambarkan sebagai berikut.
6) Teori Poros
Teori
poros dikemukakan oleh Babcock (1932), yang menekankan pada peranan
transportasi dalam memengaruhi struktur keruangan kota. Teori poros ditunjukkan
pada gambar sebagai berikut.
7) Teori Historis
Dalam
teori historis, Alonso mendasarkan analisisnya pada kenyataan historis yang
berkaitan dengan perubahan tempat tinggal penduduk di dalam kota. Teori
historis dari Alonso dapat digambarkan sebagai berikut.
Dari
model gambar di depan menunjukkan bahwa dengan meningkatnya standar hidup
masyarakat yang semula tinggal di dekat CBD disertai penurunan kualitas
lingkungan, mendorong penduduk untuk pindah ke daerah pinggiran (a). Perbaikan
daerah CBD menjadi menarik karena dekat dengan pusat segala fasilitas kota (b).
Program perbaikan yang semula hanya difokuskan di zona 1 dan 2, melebar ke zona
3 yang menarik para pendatang baru khususnya dari zona 2 (c).
Teori Ketinggian Bangunan (Bergel, 1955).
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan struktur kota dapat dilihat dari
variabel ketinggian bangunan. DPK atau CBD secara garis besar merupakan daerah
dengan harga lahan yang tinggi, aksesibilitas sangat tinggi dan ada
kecenderungan membangun struktur perkotaan secara vertikal. Dalam hal ini, maka
di DPK atau CBD paling sesuai dengan kegiatan perdagangan (retail activities),
karena semakin tinggi aksesibilitas suatu ruang maka ruang tersebut akan
ditempati oleh fungsi yang paling kuat ekonominya.
sumber : http://geoenviron.blogspot.com/2014/01/teori-struktur-tata-ruang-dan.html
sumber : http://geoenviron.blogspot.com/2014/01/teori-struktur-tata-ruang-dan.html
Langganan:
Postingan (Atom)













